Pengetahuan dan
kepercayaan sering berjalan tak beriringan. Manusia sering kali merasa bahwa
segala sesuatu bisa dijangkaunya dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dunia
bagi segelintir orang adalah tempat yang penuh dengan teka-teki yang harus
dipecahkan. Namun sayang, rasa ingin tahu yang berlebihan inilah yang mendorong
beberapa orang untuk menerka-nerka arti kehidupan sesungguhnya. Dan sering kali
terkaan tersebut menjadi salah penafsiran. Charles Darwin misalnya.
Bapak evolusi ini
menjadi mashyur namanya di dunia berkat teori yang dikemukakannya. Buku On the Origin of Species by Means of Natural
Selection miliknya ini berhasil menggemparkan dunia. Tentu saja. Siapa yang
tidak akan kaget ketika membaca buku ini? Di dalam bukunya Darwin mengatakan
bahwa manusia sebenarnya adalah evolusi dari kera. Evolusi ini sendiri terjadi
seleksi alam yang terjadi. Tapi percayakah Anda akan hal ini?
Sebagai umat
beragama, tentu kita akan menolak mentah-mentah akan hal ini. Secara logika
kita, tidak mungkin manusia merupakan jelmaan kera yang telah berubah setelah
ratusan tahun berlalu. Tapi di sisi lain mungkin ada sedikit sikap pro kita
terhadap Teori Darwin ini. Mungkin Anda sempat berpikir begini. “Bisa saja
Teori Darwin itu benar. Toh Darwin memiliki bukti-bukti yang kuat di dalam
bukunya tersebut. Lagi pula penelitian yang lain pun mengatakan bahwa ada
beberapa kemiripan antara manusia dan kera. Jadi kemungkinan teori ini benar.”
Tapi Anda salah kalau Anda berpikir demikian.
Coba Anda
refleksikan sejenak. Kehidupan Anda ini siapakah yang mengontrolnya? Ragukah
Anda dengan perkataan-Nya bahwa manusia ini adalah makhluk yang paling
sempurna? Atau percayakah Anda dengan orang lain yang boleh jadi memiliki
segudang pengetahuan, tapi membuat pemahaman sendiri seolah-olah dialah yang
mengontrol dunia ini?
Hey! Nobody`s perfect! Begitu pun dengan
Darwin. He just an ordinary boy. Just that. Darwin sama seperti kita.
Walaupun seabrek penelitian dilakukannya, bukan berarti dia tahu segalanya.
Yang harus kita percaya adalah kalau Tuhan yang menciptakan segalanya. Sebagai
seorang Kristiani pun saya diajarkan bahwa Adam-lah manusia pertama di muka
bumi ini. Apalagi buat Anda yang merupakan seorang Muslim. Tentu sudah tertanam
kuat di diri Anda masing-masing kalau Adam adalah manusia pertama. Agama lain
saya rasa juga demikian. Kita sama-sama meyakini bahwa kita manusia diciptakan
apa adanya sebagai makhluk paling tinggi kedudukannya dibanding makhluk lain.
Bukan malah sebagai evolusi dari mahkluk-makhluk tersebut.
Ada satu hal yang
juga harus kita ketahui di balik teori Darwinisme. Salah satu pendukung Darwin,
yaitu Thomas Huxley (1825-1895) adalah seorang atheis. Huxley yang diberi
julukan “anjing Bulldognya Darwin” ini menganggap agama adalah suatu takhayul
yang berbahaya.
Renungkan lagi
sekarang. Huxley yang adalah fans fanatik Darwin ternyata tidak memiliki
kepercayaan kepada Tuhan. Dan apa bedanya Anda dengan Huxley kalau Anda pun
turut tersugesti dengan Darwin?
Boleh-boleh saja
percaya kepada ilmu pengetahuan. Namun kita harus tahu batasannya. Jangan
pernah meragukan apa pun yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan sampai Anda dicap
memiliki iman kacangan hanya karena percaya Teori Darwinisme ini. Percayalah
kepada-Nya bahwa kita diciptakan secara istimewa. Bukan kepada Darwin yang
hanya terlewat ingin tahu terhadap apa yang ada di dunia ini.
Jadi sudah bisa
menyimpulkan apa yang harus Anda percaya? Universal
Creation atau Darwinisme? Saya harap kita dapat bersama-sama menjawab Universal Creation dengan mantap tanpa
ada keragu-raguan lagi.




0 comments:
Posting Komentar