THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 29 Mei 2012

Charles Darwin: He Just An Ordinary Boy



                Pengetahuan dan kepercayaan sering berjalan tak beriringan. Manusia sering kali merasa bahwa segala sesuatu bisa dijangkaunya dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dunia bagi segelintir orang adalah tempat yang penuh dengan teka-teki yang harus dipecahkan. Namun sayang, rasa ingin tahu yang berlebihan inilah yang mendorong beberapa orang untuk menerka-nerka arti kehidupan sesungguhnya. Dan sering kali terkaan tersebut menjadi salah penafsiran. Charles Darwin misalnya.
                Bapak evolusi ini menjadi mashyur namanya di dunia berkat teori yang dikemukakannya. Buku On the Origin of Species by Means of Natural Selection miliknya ini berhasil menggemparkan dunia. Tentu saja. Siapa yang tidak akan kaget ketika membaca buku ini? Di dalam bukunya Darwin mengatakan bahwa manusia sebenarnya adalah evolusi dari kera. Evolusi ini sendiri terjadi seleksi alam yang terjadi. Tapi percayakah Anda akan hal ini?
                      

                Sebagai umat beragama, tentu kita akan menolak mentah-mentah akan hal ini. Secara logika kita, tidak mungkin manusia merupakan jelmaan kera yang telah berubah setelah ratusan tahun berlalu. Tapi di sisi lain mungkin ada sedikit sikap pro kita terhadap Teori Darwin ini. Mungkin Anda sempat berpikir begini. “Bisa saja Teori Darwin itu benar. Toh Darwin memiliki bukti-bukti yang kuat di dalam bukunya tersebut. Lagi pula penelitian yang lain pun mengatakan bahwa ada beberapa kemiripan antara manusia dan kera. Jadi kemungkinan teori ini benar.” Tapi Anda salah kalau Anda berpikir demikian.
                Coba Anda refleksikan sejenak. Kehidupan Anda ini siapakah yang mengontrolnya? Ragukah Anda dengan perkataan-Nya bahwa manusia ini adalah makhluk yang paling sempurna? Atau percayakah Anda dengan orang lain yang boleh jadi memiliki segudang pengetahuan, tapi membuat pemahaman sendiri seolah-olah dialah yang mengontrol dunia ini?
                Hey! Nobody`s perfect! Begitu pun dengan Darwin. He just an ordinary boy. Just that. Darwin sama seperti kita. Walaupun seabrek penelitian dilakukannya, bukan berarti dia tahu segalanya. Yang harus kita percaya adalah kalau Tuhan yang menciptakan segalanya. Sebagai seorang Kristiani pun saya diajarkan bahwa Adam-lah manusia pertama di muka bumi ini. Apalagi buat Anda yang merupakan seorang Muslim. Tentu sudah tertanam kuat di diri Anda masing-masing kalau Adam adalah manusia pertama. Agama lain saya rasa juga demikian. Kita sama-sama meyakini bahwa kita manusia diciptakan apa adanya sebagai makhluk paling tinggi kedudukannya dibanding makhluk lain. Bukan malah sebagai evolusi dari mahkluk-makhluk tersebut.
                Ada satu hal yang juga harus kita ketahui di balik teori Darwinisme. Salah satu pendukung Darwin, yaitu Thomas Huxley (1825-1895) adalah seorang atheis. Huxley yang diberi julukan “anjing Bulldognya Darwin” ini menganggap agama adalah suatu takhayul yang berbahaya.
                Renungkan lagi sekarang. Huxley yang adalah fans fanatik Darwin ternyata tidak memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Dan apa bedanya Anda dengan Huxley kalau Anda pun turut tersugesti dengan Darwin?
                Boleh-boleh saja percaya kepada ilmu pengetahuan. Namun kita harus tahu batasannya. Jangan pernah meragukan apa pun yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan sampai Anda dicap memiliki iman kacangan hanya karena percaya Teori Darwinisme ini. Percayalah kepada-Nya bahwa kita diciptakan secara istimewa. Bukan kepada Darwin yang hanya terlewat ingin tahu terhadap apa yang ada di dunia ini.
                Jadi sudah bisa menyimpulkan apa yang harus Anda percaya? Universal Creation atau Darwinisme? Saya harap kita dapat bersama-sama menjawab Universal Creation dengan mantap tanpa ada keragu-raguan lagi.




Postingan ini untuk mengikuti Kompetisi Blog Mama Cake

0 comments: