Arus globalisasi yang begitu deras tidak bisa terelakkan
lagi di zaman serba instan ini. Di rumah, lingkungan, bahkan di sekolah pun,
setiap individu nampaknya tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi. Hal ini terutama
menyangkut globalisasi di dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi
(TIK).
Menyadari
pentingnya TIK di dalam kehidupan sehari-hari, berbagai sekolah pun turut
mengaplikasikan hal ini ke dalam kurikulum pelajaran mereka. Seperti apa yang
dilakukan di SMA Xaverius 2 Palembang. Pelajaran komputer adalah bentuk dari
pengaplikasian teknologi yang berkembang. Lebih jauh lagi, materi pelajaran ini
untuk membuat siswa agar lebih akrab dengan teknologi yang ada.
Pelajaran TIK
di sekolah ini tidak hanya berkiblat sebagaimana fungsi komputer diciptakan
untuk mengetik. Namun di sini, siswa diajak lebih mengenal program-program
lainnya selain Microsoft Word, seperti Microsoft Excel, Microsoft Publisher,
Adobe Photoshop, Corel Draw dan lain sebagainya. Meskipun Microsoft Word
menjadi hal yang mutlak harus dipelajari, namun semuanya dikupas secara tuntas.
Seperti halnya bagaimana membuat rumus matematika melalui program pengolah kata
ini.
Tak sampai di
situ, pelajaran kesenian pun turut memanfaatkan kemajuan yang ada, guna membuat
murid lebih tertarik mengikuti pelajaran. Misalnya, untuk pelajaran menggambar.
Guru kesenian di SMA Xaverius 2 Palembang memperbolehkan siswanya untuk
mengembangkan kreatifitasnya dalam mendesain suatu gambar melalui komputer.
Selain siswa dapat menyalurkan hobinya, tentu pelajaran akan lebih
menyenangkan, karena siswa bisa sebebasnya mengutak-atik komputer sambil
menyalurkan kreatifitasnya. Dan juga, kerjaan iseng mereka di depan komputer
atau laptop yang mereka pakai dapat memenuhi nilai tugas mereka.
Kebiasaan memanfaatkan
teknologi ini juga telah menjamur di kalangan para siswa. Mereka tidak hanya
menggunakan teknologi saat mendapat perintah dari guru, tapi mereka telah
memiliki kesadaran diri. Seumpamanya ada materi pelajaran yang tidak
dimengerti. Dengan sigap, mereka akan memanfaatkan telepon genggam yang
dimiliki untuk mem-browsing internet.
Bahkan social media seperti Facebook
pun menjadi “lahan” bagi siswa untuk menggali ilmu. Hampir seluruh kelas di
sini menggunakan jejaring sosial Facebook dan membuat suatu komunitas sebagai forum
tempat berdiskusi dan bertukar pikiran seputar pelajaran.
Untuk lebih
mempermudah siswa, alamamater ini menyediakan Wireless Fidelity (Wi-Fi). Jadi siswa tak perlu pusing-pusing
memikirkan bagaimana mengakses internet ketika pulsa mereka minim. Dengan
adanya free Wi-Fi ini siswa dapat
berinternet ria tanpa batas.
Adanya hot spot di sekolah ini sebagai bentuk
pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara sehat oleh pihak sekolah.
Hal ini sesuai dengan
kebijakan pemerintah Sumsel dalam memberikan akses internet gratis kepada masyarakat
Sumatera Selatan Terbukti pada hari Jumat (1/6) dengan diadakannya Launching Sumsel Wi-Fi AreaFree Sumsel
yang bekerja sama dengan Dishubkominfo dan komunitas Relawan TIK Sumsel. Dan
untuk lebih memeriahkan event peluncuran
Wi-Fi ini, diselenggarakan pula blogger competition bagi pelajar SMA,
mahasiswa, serta umum.
Bukan zamannya
lagi untuk menganggap teknologi sebagai momok yang menakutkan. Bukan pula
alasan bagi guru atau pihak keluarga untuk melarang kebebasan pelajar dalam
berteknologi. Pemerintah saja mendukung penggunaan teknologi. Lantas apa yang
perlu dikhawatirkan? SMA Xaverius 2 Palembang telah menjadi contoh bahwa
teknologi informasi dan komunikasi dapat memberikan sumbangsih yang besar
terhadap dunia pendidikan, apabila segenap pihak jeli menanggapinya.
Sekolah harus
sadar betul akan hal ini. Pihak sekolah harusnya lebih kreatif dalam
memanfaatkan teknologi dalam metode mengajar. Secara tidak langsung, guru harus
up-to date terhadap perkembangan yang
ada. Kepiawaian guru dalam menggunakan teknologi yang ada akan membuat kegiatan
belajar-mengajar lebih mengasyikan, serta membuat siswa betah untuk
berlama-lama belajar di sekolah.




